TATA PANGGUNG
Tata panggung disebut juga dengan
istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh
tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata,
tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor
disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan
cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan
dilaksanakan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penataan panggung seorang
penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.
Mempelajari Panggung
Dalam sejarah perkembangannya, seni
teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan.
Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater
itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda
memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang
penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat
dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari
depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami
karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung
tersebut.
Jenis-jenis Panggung
Panggung adalah tempat
berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon,
sutradara, dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Di atas panggung inilah
semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita
yang ditampilkan. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan
menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Seperti
telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini
hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Ketiganya adalah panggung
proscenium, panggung thrust, dan panggung arena. Dengan memahami bentuk dari
masingmasing panggung inilah, penata panggung dapat merancangkan karyanya
berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.
Arena
Panggung arena adalah panggung yang
penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat
sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka
penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan
karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi
oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan
set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar
dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan
penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.
Panggung arena biasanya dibuat
secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka
atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini
membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata
panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas
panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja
akan nampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika
bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang
lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai
artistik pementasan.
Lepas dari kesulitan yang dihadapi, panggun
arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Kedekatan jarak
antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di
tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek
kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton.
Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah
penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Banyak usaha yang
dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton, salah satunya adalah
penggunaan panggung arena. Beberapa pengembangan desain dari teater arena
melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam.
Proscenium
Panggung proscenium bisa juga
disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam
lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch).
Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting
pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Dengan
pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan
penonton.
Panggung proscenium sudah lama
digunakan dalam dunia teater. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan
pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa
adanya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang
hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan
terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar
terjadi dalam kehidupan nyata.
Tata panggung pun sangat diuntungkan
dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Perspektif dapat
ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang).
Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai
hal-hal terkecil. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk
tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Kesan inilah yang diolah penata
panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Seperti sebuah
lukisan, bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Penonton disuguhi gambaran
melalui bingkai tersebut.
Hampir semua sekolah teater memiliki
jenis panggung proscenium. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi
(tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Jarak antara
penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
gambaran kreatif pemangungan. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan
secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Tata cahaya yang memproduksi sinar
dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu
berada. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui
pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi
di atas pentas adalah kenyataan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung
proscenium bertahan sampai sekarang.
5.1.3 Fungsi Tata Panggung
Dalam perancangan tata panggung
selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen
komposisi yang perlu diperhatikan. Sebelum menjelaskan semua itu, fungsi tata
panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Selain merencanakan gambar dekor,
penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan.
Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor
membentuk satu lukisan secara menyeluruh.
Perabot dan piranti sangat penting
dalam mencipta lukisan panggung, terutama pada panggung arena dimana lukisan
dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena
akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di
atas panggung. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung
arena. Unsur-unsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran
lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon, periode
sejarah lakon, lokasi kejadian, status karakter peran, dan musim dalam tahun
dimana lakon dilangsungkan.
Elemen Komposisi
Desain tata panggung sebaiknya
dibuat dengan mudah dan bebas. Artinya, imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya
ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan
visualisasinya. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan
akhrinya memberikan batasan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan
setelah gagasan tertuang. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang
terpenting adalah cara mengatur, menata, dan memanipulasi elemen komposisi yang
menjadi dasar dari seluruh kerja desain.
TATA CAHAYA
Cahaya adalah unsur tata artistik
yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton
tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia
hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi. Sejak
ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan
hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Seorang
penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata
cahaya. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan
dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.
Fungsi Tata Cahaya
Tata cahaya yang hadir di atas
panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi
sutradara, aktor, dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua
objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang
segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara dapat
menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan
peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat, yaitu penerangan,
dimensi, pemilihan, dan atmosfir (Mark Carpenter, 1988).
- Penerangan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata
cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di
atas panggung. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya
sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi
penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Tidak semua area di
atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan
tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak
disampaikan melalui laku aktor di atas pentas.
- Dimensi. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek
dapat dicitrakan. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan
terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata
panggung. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka
gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Dengan
pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka
dimensi objek akan muncul.
- Pemilihan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk
menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam film dan
televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara
panggung melakukannya dengan cahaya. Dalam teater, penonton secara normal
dapat melihat seluruh area panggung, untuk memberikan fokus perhatian pada
area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Pemilihan ini tidak
hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di
atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan.
- Atmosfir. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya
adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton.
Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang
terkandung dalam peristiwa lakon. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana
yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan
panggung, efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan
matahari pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, warna cahaya matahari pagi
berbeda dengan siang hari. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan
sinar mentari siang hari terasa panas. Inilah gambaran suasana dan emosi
yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya.
Keempat fungsi pokok tata cahaya di
atas tidak berdiri sendiri. Artinya, masing-masing fungsi memiliki interaksi
(saling mempengaruhi). Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu
untuk memberikan gambaran dimensional objek, suasana, dan emosi peristiwa.
Selain keempat fungsi pokok di atas, tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang
dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Beberapa
fungsi pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut.
- Gerak. Tata cahaya tidaklah statis. Sepanjang
pementasan, cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area
lain, dari objek satu ke objek lain. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir
sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang
tidak. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain
dalam area yang berbeda, penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tetapi
pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung
terkadang tidak secara langsung disadari. Tanpa sadar penonton dibawa ke
dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya.
- Gaya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang
sedang dilakonkan. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil
kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti
matahari, bulan atau lampu meja. Dalam gaya Surealis tata cahaya
diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan
seharihari. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan
tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan
oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton.
- Komposisi. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.
- Penekanan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan
tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Penggunaan warna serta
intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang
hendak disampaikan. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa
disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan
menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari
hal tersebut.
- Pemberian tanda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda
selama pertunjukan berlangsung. Misalnya, fade out untuk mengakhiri sebuah
adegan, fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari
cerita. Dalam pementasan teater tradisional, black out biasanya digunakan
sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.
TATA RIAS
Tata rias secara umum dapat
diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tata
rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik, yaitu seni mengubah wajah
untuk menggambarkan karakter tokoh. Tata Rias dalam teater bermula dari
pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Contohnya,
teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis
tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Beberapa teater primitif
menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam, seperti
tanah,tulang, tumbuhan, dan lemak binatang. Pemakaian tata rias akhirnya
menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater.
Fungsi Tata Rias
Tokoh dalam teater memiliki karakter
berbeda-beda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang
berbeda sesuai karakternya. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan
karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Tata rias dalam teater memiliki
fungsi sebagai berikut.
- Menyempurnakan penampilan wajah
- Menggambarkan karakter tokoh
- Memberi efek gerak pada ekspresi pemain
- Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai
dengan tokoh
- Menambah aspek dramatik.
Menyempurnakan Penampilan
Wajah
Wajah seorang pemain memiliki
kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Seorang
pemain, misalnya, memiliki hidung yang kurang mancung, mata yang tidak
ekspresif, bibir yang kurang tegas, dan sebagainya. Tata rias bisa
menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung,
mata menjadi lebih ekspresif, dan bibir bergaris tegas. Penyempurnaan wajah
dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang
dimainkan. Misalnya, seorang remaja memerankan siswa sekolah. Tata rias tidak
perlu mengubah usia, tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan
yang ada untuk disempurnakan. Pemain yang tidak menggunakan rias, wajahnya akan
tampak datar, tidak memiliki dimensi.
Menggambarkan Karakter Tokoh
Karakter berarti watak. Tata rias
berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek
umur, ras, bentuk wajah dan tubuh. Karakter wajah merupakan cermin psikologis
dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Misalnya, seorang yang optimis
digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas.
Sebaliknya, tokoh yang pesimistis
cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Tata rias memiliki
kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari
seorang pemera
Memberi Efek Gerak Pada
Ekspresi Pemain
Wajah seorang pemain di atas pentas,
tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias
untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Tata rias berfungsi menegaskan
garis-garis wajah karakter, sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang
tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Seorang penata rias harus mencermati
gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat.
Menghadirkan Garis Wajah
Sesuai Dengan Tokoh
Menampilkan wajah sesuai dengan
tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Fungsi garis tidak
sekedar menegaskan, tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang
berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya, seorang remaja yang memerankan
seorang yang telah berumur 50 tahun. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan
sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Seorang yang berperan menjadi tokoh
binatang, maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah
binatang yang diperankan.
Menambah Aspek Dramatik
Peristiwa teater selalu tumbuh dan
berkembang. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan
dan penambahan tata rias. Misalnya, seorang tokoh tertusuk belati, tertembak,
tersayat wajahnya, maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan
kebutuhan. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa
yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Jenis Tata Rias
Tata Rias Korektif
Tata rias korektif (corective
make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).
Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan
menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. Setiap wajah memiliki kekuarangan
dan kelebihan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna, misalnya
dahi terlalu lebar, hidung kurang mancung dan sebagainya,dapat disempurnakan
dengan make up korektif. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika
tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia, ras, dan perubahan bentuk wajah.
Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. Wajah pemain
cukup disempurnakan dengan menyamarkan, menegaskan, dan menonjolkan
bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.
Tata Rias Fantasi
Tata rias fantasi dikenal juga
dengan istilah tata rias karakter khusus. Disebut tata rias karakter khusus,
karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Tata
rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir
berdasarkan daya khayal semata.
Tata Rias karakter
Tata rias karaker adalah tata rias
yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur, watak, bangsa, sifat,
dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Tata rias karakter dibutuhkan
ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Tata rias karakter
tidak sekedar menyempurnakan, tetapi mengubah tampilan wajah. Contohnya,
mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . Mengubah anatomi wajah
pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias
karakter, misalnya memanjangkan telinga. Tokoh tersebut memiliki latar Suku
Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga.
TATA BUSANA
Tata busana adalah seni pakaian dan
segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Tata busana
termasuk segala asesoris seperti topi, sepatu, syal, kalung, gelang , dan
segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata busana dalam teater memiliki
peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Pada era teater primitif, busana
yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami, seperti tumbuhan, kulit binatang,
dan batu-batuan untuk asesoris. Ketika manusia menemukan tekstil dengan
teknologi pengolahan yang tinggi, maka busana berkembang menjadi lebih baik.
Tata busana dapat dibuat berdasar
budaya atau jaman tertentu. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan
kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan
adat dan kebudayaan tersebut. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara
daerah satu dengan daerah lain. Masing-masing memiliki ciri khasnya. Sementara
itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Artinya, busana pada
jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.
Tidak ada periode tata busana secara
khusus di teater, karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan.
Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut.
Misalnya, dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman
tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi
Kuno. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani, Abad Pertengahan,
Renaissance, Elizabethan, Restorasi, dan Abad 18.
Busana teater mengalami perkembangan
pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Dalam masa ini,
beragam aliran teater bermunculan. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri
dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. Semua terserah
pada gagasan seniman. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Tata busana dengan
demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman, tetapi lebih pada konsep yang
melatarbelakangi penciptaan teater.
Fungsi Tata Busana
Busana yang dipakai manusia beraneka
ragam bentuk dan fungsinya. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk
melindungi tubuh, mencitrakan kesopanan, dan memenuhi hasrat manusia akan
keindahan. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks, yaitu.
- Mencitrakan keindahan penampilan
- Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain
- Menggambarkan karakter tokoh
- Memberikan efek gerak pemain
- Memberikan efek dramatik
Mencitrakan Keindahan Penampilan
Manusia memiliki hasrat untuk
mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek kehidupan. Tata busana dalam
teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari
penampilan seharihari.
Pementasan teater adalah suatu
tontonan yang mengandung aspek keindahan. Pada era teater primitif, hasrat
untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul.
Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris
sesuai kebutuhan pemensan. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu
Elizabeth (1580 – 1640), memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah
dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan
mewah.
Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain
Yang Lain
Pementasan teater menampilkan tokoh
yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Penonton membutuhkan
suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain.
Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan
tokoh yang lain. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus
seorang tokoh, sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah
Menggambarkan Karakter Tokoh
Fungsi penting busana dalam teater
adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Perbedaan karakter dalam busana
dapat ditampilkan melalui model, bentuk, warna, motif, dan garis yang
diciptakan. Melalui busana, penonton terbantu dalam menangkap karakter yang
berbeda dari setiap tokoh. Contohnya, tokoh seorang pelajar yang pendiam,
rajin, dan alim, busananya cenderung rapi, sederhana, dan tanpa asesoris yang
berlebihan. Sebaliknya, tokoh seorang pelajar yang bandel, brutal, dan sering
membuat onar, busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya
tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah.